Poin penting
PMS (premenstrual syndrome) dan PMDD (premenstrual dysphoric disorder) sama-sama menimbulkan gejala pada satu hingga dua minggu sebelum menstruasi, tetapi PMDD adalah kondisi tersendiri yang lebih parah - satu di mana gejala suasana hati cukup intens hingga benar-benar mengganggu pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, sementara gejala PMS cenderung lebih ringan dan lebih mudah dikelola.
Karena kedua kondisi ini memiliki begitu banyak gejala yang sama, wajar jika orang bertanya-tanya kondisi mana yang mereka alami. Perbedaan ini penting karena PMDD diakui sebagai kondisi yang dapat didiagnosis dan sering kali mendapat manfaat dari penanganan profesional, sementara PMS biasanya dikelola dengan penyesuaian gaya hidup.
PMS merujuk pada sekumpulan gejala fisik dan emosional yang muncul pada fase luteal - waktu antara ovulasi dan awal menstruasi, salah satu bagian dari pola siklus yang lebih luas yang dibahas dalam berapa panjang siklus menstruasi yang normal - dan biasanya mereda setelah pendarahan dimulai. Gejala PMS yang umum meliputi kembung, nyeri payudara, sakit kepala, kelelahan, keinginan makan tertentu (ngidam), mudah marah ringan, dan suasana hati yang murung. Perkiraan menunjukkan sebagian besar orang yang mengalami menstruasi merasakan setidaknya beberapa gejala PMS pada suatu waktu, meskipun tingkat keparahannya sangat bervariasi.
PMS dianggap sebagai bagian normal dan umum dari siklus menstruasi bagi banyak orang. Kondisi ini tidak nyaman, tetapi umumnya tidak menghalangi seseorang untuk bekerja, menjaga hubungan, atau menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
PMDD adalah kondisi yang lebih parah dan diakui secara klinis, yang juga terjadi pada fase luteal tetapi melibatkan gejala terkait suasana hati yang intens - bayangkan mudah marah yang parah, kemarahan, kecemasan, suasana hati tertekan, atau perasaan kewalahan atau kehilangan kendali - yang cukup signifikan hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. PMDD jauh lebih jarang dibandingkan PMS, hanya memengaruhi persentase yang jauh lebih kecil dari orang yang mengalami menstruasi, tetapi bisa sangat mengganggu ketika terjadi.
PMDD dimasukkan sebagai kondisi yang dapat didiagnosis dalam kriteria diagnostik psikiatri, yang mencerminkan betapa jauh lebih signifikannya kondisi ini secara klinis dibandingkan PMS biasa.
Kedua kondisi ini bisa melibatkan:
Keduanya memiliki gejala yang tumpang tindih, tetapi PMDD dianggap sebagai kondisi tersendiri yang diakui secara klinis, didefinisikan oleh intensitas gejala suasana hati dan gangguannya terhadap kehidupan sehari-hari, bukan sekadar PMS yang lebih buruk.
Evaluasi standar biasanya melibatkan pencatatan gejala setiap hari selama setidaknya dua siklus menstruasi untuk memastikan pola fase luteal yang konsisten.
Untuk keduanya, gejala biasanya mereda atau hilang dalam beberapa hari setelah pendarahan dimulai; jika gejala berlanjut sepanjang bulan, penyebab lain mungkin terlibat.
Ya, berbagai pendekatan termasuk terapi, penyesuaian gaya hidup, dan obat-obatan dapat membantu; dokter atau profesional kesehatan mental dapat merekomendasikan yang sesuai berdasarkan evaluasi yang tepat.
Start tracking today โ free, private, and yours.
Mencatat suasana hati, aliran darah, dan gejala fisik secara konsisten selama beberapa siklus mengungkap pola yang terkait dengan fase siklusmu - berikut metode praktis dan hal yang layak disampaikan ke dokter.
Menstruasi yang terlambat biasanya disebabkan oleh faktor sehari-hari seperti stres, perubahan berat badan, sakit, atau perubahan KB - berikut alasan paling umum dan kapan harus menemui dokter.
Kamu bisa memperkirakan ovulasi menggunakan suhu basal tubuh, perubahan lendir serviks, dan pencatatan kalender - tanpa memerlukan peralatan khusus, meskipun setiap metode punya keterbatasannya sendiri.
Karena daftar gejalanya begitu tumpang tindih, gejala saja seringkali tidak cukup untuk membedakan PMS dan PMDD - tingkat keparahan dan dampaknyalah yang menjadi faktor pembeda sesungguhnya.
Perbedaan utamanya terletak pada intensitas dan dampak fungsional, bukan pada gejala mana yang muncul:
Jika gejala suasana hati sebelum menstruasimu terasa seperti penurunan yang masih bisa dikelola, dibandingkan dengan sesuatu yang terasa benar-benar tidak proporsional atau sulit dikendalikan, kesenjangan intensitas itu sering menjadi sinyal paling jelas.
Baik PMS maupun PMDD tidak bisa didiagnosis dari satu siklus atau satu daftar periksa gejala yang dilihat sekali saja - keduanya memerlukan pengamatan pola di beberapa siklus. Khusus untuk PMDD, mencatat gejala setiap hari selama setidaknya dua siklus menstruasi adalah bagian standar dari evaluasi yang tepat, karena diagnosisnya bergantung pada penunjukan bahwa gejala berkumpul di fase luteal dan mereda setelah menstruasi dimulai, bukan hadir sepanjang bulan.
Di sinilah pencatatan gejala yang konsisten menjadi benar-benar berguna, bukan sekadar kebiasaan baik. Cara melacak gejala dan mengenali pola dalam siklusmu membahas pendekatan praktis untuk mencatat suasana hati, aliran darah, dan gejala fisik dengan cara yang membuat pola-pola ini terlihat.
Pertimbangkan untuk berbicara dengan dokter, dokter kandungan, atau profesional kesehatan mental jika:
Seorang profesional dapat membantu memilah perbedaannya, karena pendekatan penanganan PMDD (yang mungkin meliputi terapi, perubahan gaya hidup, atau obat-obatan) berbeda dari penanganan PMS pada umumnya. Artikel ini hanya bersifat edukasi dan bukan alat diagnosis - diagnosis PMDD yang tepat memerlukan evaluasi klinis.
CycleCare memungkinkanmu mencatat suasana hati, gejala, dan aliran darah bersama hari-hari siklusmu di kalendernya, yang memudahkanmu memperhatikan apakah gejala pramenstruasimu mengikuti pola yang konsisten dari siklus ke siklus. Mengekspor riwayat tersebut ke PDF atau CSV dapat memberi dokter catatan yang lebih jelas dan bertanggal untuk ditinjau, jika kamu sedang mencoba mencari tahu apakah yang kamu alami adalah PMS, PMDD, atau sesuatu yang lain.